KAOS
Cerpen : Ibnu HS
Brakk …!
Karena sedang tergesa-gesa lelaki itu jadi kurang waspada. Sepeda pancalnya terlanjur menabrak sebuah pick-up yang berhenti di mulut gang. Tanpa ampun ia jatuh tersungkur.
“Goblok …!”
“Kalau ndak punya mata jangan naik sepeda!”
Sederet caci maki berhamburan dari mulut-mulut penumpang. Beberapa orang melompat dari atas pick-up dan mendekatinya yang masih terkejut dengan peristiwa tersebut.
“Lihat kaosnya, Bang!”
Seorang lelaki di atas pick up menunjuk-nunjuk dan berteriak pada temannya yang bergegas menghampiri. Orang-orang mulai berkerumun menyaksikan keributan.
“Buka bajumu …!” Salah satu dari mereka yang bertampang sangar menghardik kasar. Dari mulutnya tercium aroma khas yang mengisyaratkan bahwa orang tersebut tidak sepenuhnya berada dalam keadaan waras.
“Maaf, Bang. Aku …!” Ia gugup. Untuk bangun dari tempatnya semula pun ia belum bisa. Ditambah bentakan seperti itu menyebabkan otaknya tak mampu bekerja mengumpulkan kata-kata.
“Kamu penyusup ‘kan …?”
Ia makin panik.
“Sudah …, sikat saja!” Seseorang berteriak memanasi.
“Jang …, Ah!”
Jeritannya putus tak sempat melintasi kerongkongan. Berikutnya lusinan kepalan dan tendangan mendarat di sekujur tubuh kurusnya. Jangankan melawan, untuk mengaduh sekalipun mulutnya sudah tak mampu lagi melempar keluh.
Samar didengarnya seseorang menjerit memecah kerumunan.
“Stoooop …, hentikan kataku!”
Ia merasa seseorang berjongkok di dekatnya.
“Ya …, Tuhan. Ia bisa mati kalau begini!”
“Angkat …!”
Beberapa bayangan melintas. Kesadarannya terasa semakin mengabur. Tinggal suara hatinya yang mengangkasa. Ilahi, jika bibirku sudah terlalu kelu jangan biarkan hatiku lalai mengingat Mu …
* * *
Kesaksian supir angkot yang mengantar korban ke rumah sakit:
Saya tidak kenal. Ya, saya sedang melintas waktu orang-orang ramai berkerumun di pinggir jalan. Saya kita ada tabrakan. Terus tahu-tahu ada yang mengangkat orang ini ke mobil saya dan minta agar dia dibawa ke rumah sakit. Apa? Pengeroyokan? Kalau itu saya tidak melihat. Yang saya tahu dia sudah bonyok waktu dibawa ke rumah sakit. Darahnya …, aduuuh!
* * *
Kesaksian tukang tambal ban yang mangkal di sekitar lokasi kejadian:
Oh, saya lihat dari pertama dia keluar dari dalam gang terus nabrak pick-up ‘etam. Betul, pakai kaos Partai Semangat Bekerja. Cepat juga kejadiannya. Tahu-tahu saya lihat dia sudah dipukuli. Bak-buk-bak- buk! Menolong? Waah …, mana saya berani dekat-dekat. . Dia nekat juga sih! Kalau menurut saja boleh saja mendukung salah satu partai. Tapi masak orang lagi kampanye ditabrak? Itu sih memang nyari mati …
* * *
Tanggapan Ketua Partai Semangat Bekerja:
Kejadian ini patut disesalkan. Mestinya ini tidak boleh terjadi. Saya atas nama pribadi maupun selaku pimpinan partai menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya. Siapa? Oh, ya … Naryo? Tentu, tentu! Untuk simpatisan yang loyal seperti almarhum kami akan berikan tanda jasa dan uang tanda duka untuk keluarganya.
* * *
Kutipan berita di sebuah surat kabar harian lokal:
Kekerasan berdarah mewarnai pelaksanaan putaran terakhir kampanye Pemilu. Salah seorang yang diduga sebagai simpatisan fanatik salah satu partai politik tewas mengenaskan setelah dikeroyok massa partai politik saingannya yang kebetulan sedang melakukan konvoy menuju lokasi kampanye terbuka. Korban yang diketahui bernama Naryo (32) sempat dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia dalam perjalanan.
* * *
Beberapa jam sebelum kejadian:
“Mas, panas badan Anis ndak turun-turun!” Jum yang biasanya tenang sudah tak bisa lagi menahan kegelisahannya. Tangannya terlihat gemetar saat mengganti kompres di kening anak perempuannya yang menggigil di tempat tidur.
Naryo terpaku di depan kamar tanpa daun pintu.
“Sabar ya …, Mas lagi usaha!”
“Ini sudah dua hari …, Mas. Aku cemas!”
Naryo pun sama. Anis anak mereka satu-satunya tidak biasanya demam tinggi begitu lama. Biasanya cuma flu. Atau batuk sesekali yang biasanya segera pergi begitu minum obat yang dijual di warung dekat rumah. Resahnya bertambah ketika melihat pipi kurus Jum telah basah karena bendungan ketabahan di mata istrinya itu mulai pecah.
“Baiklah …, sore ini kita bawa ke rumah sakit!” sahutnya bergegas melepas sarung kumal yang melilit pinggangnya.
Di ujung dipan Jum termangu. Menatap suaminya dengan mata yang bertanya. Dan Naryo sangat faham arti tatapan mata istrinya.
“Mas akan pinjam uang sama Ahok,”
“Tapi …!”
“Ndak apa. Nanti kita cari jalan keluarnya. Yang penting sore nanti Anis harus kita bawa ke dokter!” tegasnya.
Jum mengangguk lemah. Bahunya terkulai pasrah.
“Baiklah .., terserah Mas saja!”
Tanpa mengganti baju Naryo melompat ke barak sebelah untuk meminjam sepeda Mas Budi. Seperti dirinya kakak sulungnya itu sudah beberapa minggu tidak bekerja. Musim proyek sudah lewat. Ia tinggal mengharap ada orang yang membutuhkan tenaganya sebagai apa saja. Tukang semen boleh. Gali sumur terserah. Apa sajalah. Yang penting halal dan bisa untuk menghidupi keluarganya.
Sambil mengayuh sepeda pancal Mas Budi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia bosan dengan kemiskinan. Dulu mereka berangkat ke Kalimantan menyusul tetangga mereka menjadi transmigran. Ia minta Mas Budi membujuk Ibu agar mau merestui. Bayangan mereka sederhana. Mendapat sepetak sawah yang akan bisa menghidupi keluarga.
Di tanah yang baru ini mereka tak mendapat sawah. Di sini mereka mendapat tanaman lain yang katanya jauh lebih menjanjikan. Mereka menyebutnya Emas Hijau. Kavling kelapa sawit. Mereka punya tanah. Masing-masing dua hektar setiap keluarga. Mereka harus merawat kebun mereka. Kelak jika nilai kredit sudah lunas mereka akan mendapatkan tanah beserta hasil panen tersebut sebagai milik mereka. Memang, perlu waktu yang lama. Sampai menunggu buah siap panen mereka bekerja sebagai buruh tanam di kebun milik mereka sendiri. Mendapat jatah beras dari pengelola perkebunan dan upah harian. Sebelum kredit lunas, tentu hasil kebun mereka masih harus dipotong biaya pelunasan kredit dan pemeliharaan kebun.
Tahun pertama Naryo mulai gelisah. Emas Hijau yang mereka tanam bukan padi yang panen setiap tiga bulan sekali. Masih menunggu tiga tahun lagi untuk panen pertama. Waktu sejumlah temannya menjual kavling milik mereka ia tergoda. Pikirnya, lumayan buat modal usaha.
Tapi begitulah. Pengetahuan dan modal yang minim menyebabkan keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Usaha mereka merugi. Bersama keluarga Mas Budi ia mengadu nasib sebagai buruh bangunan di kota. Dan jadilah mereka seperti ini. Kemiskinan tetap tak mau pergi. Ia ingat barak sempit tempat tinggal mereka. Ingat Ibu di desa. Ingat anaknya yang kena demam tinggi. Ingat ….
“Awas …!”
Seseorang berteriak mengingatkan. Tapi semuanya sudah terlambat. Sepeda pancal Mas Budi telah mencium sebuah pick-up bermuatan massa dari Partai Penuh Semangat yang rupanya sedang menuju lokasi kampanye. Tahu-tahu ia telah terkapar di pinggir jalan. Kejadiannya begitu cepat. Ia bahkan belum sempat berdiri ketika orang-orang berlompatan dari dalam pick-up dan memandangnya dengan penuh benci. Ia tak tahu, dan sudah sangat terlambat untuk mencari tahu.
“Lihat kaosnya, Bang!”
Naryo tercekat. Ia baru menyadari bahwa kaos yang dikenakannya berbeda dengan yang mereka kenakan. Ya Allah, ia terlempar pada waktu dan tempat yang keliru.
Salah satu dari mereka yang rupanya berada dalam pengaruh minuman keras memaksanya membuka pakaian. Ia berusaha minta pengertian. Tapi percuma. Sesuatu, entah apa, sepertinya telah menjadikan orang-orang itu serupa seikat jerami. Sepercik bara kecil bisa membuat mereka seketika menjadi kobaran api. Dalam rasa sakit yang menjadi ia ingat wajah Ibu. Wajah Jum, Anis yang pucat menggigil, Mas Budi. Ya Allah …, jerit batinnya.
* * *
Karena barak tempat tinggal mereka terlalu kecil, maka jenazah ditumpangkan di rumah tetangga yang agak sedikit lapang.
“Atas nama pribadi maupun partai kami menyampaikan duka yang mendalam!” ujar Ketua Partai Semangat Bekerja yang berkunjung ke rumah duka. Beberapa wartawan dari sejumlah media ikut menyaksikan.
Jum bungkam tak menyahut. Sesungguhnya ia merasa sudah tak mampu bicara. Juga sudah tak mampu lagi meneteskan air mata. Seluruh sendi tubuhnya terasa lunglai. Dalam sehari ia kehilangan dua orang sekaligus. Anak yang tercinta, juga suami yang meninggalkannya secara tiba-tiba.
“Kami tahu Ibu sedang berduka. Semoga uang ini bisa bermanfaat. Memang jumlahnya tidak sebanding dengan pengorbanan suami ibu. Kami salut ia begitu simpati pada kami, padahal …”
“Suami saya bukan siapa-siapa!” Suara Jum meninggi tiba-tiba. Suaranya mengejutkan semua orang yang berkumpul sampai di halaman.
“Suami saya sedang mencari pinjaman uang membawa anak kami ke dokter. Jika ia memakai kaos partai Bapak-Bapak itu karena kami memang ndak punya banyak baju yang layak untuk dipakai. Suami saya ndak ngerti partai. Ndak tahu soal kampanye atau pemilu. Kami ndak terdaftar sebagai warga di tempat ini. Ndak punya KTP. ‘Ndak dapat BLT …!”
Jum tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Tubuhnya menggigil menahan sedan. Seluruh ruangan membisu.
“Sudah saatnya jenazah dishalatkan!” Suara Budi di depan pintu kamar tempat jenazah dimandikan dan dikafani memecah bisu. Di tangannya tergenggam sehelai kaos yang tak lagi jelas warna aslinya.
Tanah kelahiran, 29 Maret 2009