Kota Pontianak, beberapa hari menjelang kulminasi matahari. Azan Zhuhur akan terdengar dalam beberapa menit ke depan. Beberapa masjid saya lewati begitu saja tanpa terfikir untuk singgah. Dalam cuaca terik seperti ini, tubuh saya banjir keringat. Yang terpikir di kepala hanyalah pulang dengan segera dan mengguyur tubuh dengan bergayung-gayung air. Soal shalat bisa dilakukan di rumah nanti dalam keadaan segar setelah mandi.
Tapi Allah punya rencana lain yang lebih baik untuk saya. Tiba-tiba …, Oo …, sepeda motor saya oleng dan saya nyaris kehilangan keseimbangan. Roda sebelah depan kehilangan angin dengan cepat. Mungkin terkena paku atau apa. Entahlah. Tapi yang jelas saya dipaksa untuk merubah rencana semula. Pulang soal gampang. Yang paling penting sekarang, mencari di mana bengkel terdekat. Keringat saya mengucur lebih deras lagi. Alhamdulillah …, setelah mendorong sekitar lima menitan, saya menemukan tempat tambal ban di pinggir jalan.
Saat menunggu ban motor saya diurus, tiba-tiba saya mendengar kumandang azan dari masjid yang hanya berjarak kurang dari 100 langkah, memanggil hati saya untuk singgah. Maka saya pun bergerak untuk bergabung dengan barisan orang-orang yang bersujud siang itu. Lalu …, inilah rencana Allah itu!
Saya belum selesai shalat sunnah ketika seorang lelaki hampir menabrak saya. Setelah usai shalat saya perhatikan ternyata lelaki itu melangkah sangat perlahan, dengan tangan meraba-raba mencari jalan. Katarak bertahun sudah membuat ia tak lagi memiliki penglihatan yang sempurna, bahkan nyaris buta. Tetapi … Subhanallah, sama sekali bukan penghalang baginya untuk meninggalkan jama’ah.
Tubuh saya menggigil dalam rasa haru. Juga malu. Mengkaca padanya seharusnya saya menterjemahkan rasa syukur atas kelengkapan panca indera dan fasilitas yang diamanahkan pada saya dengan bersemangat tinggi memenuhi panggilan untuk berjama’ah dan kebaikan-kebaikan lain yang belum saya lakukan. Ujian kehidupannya jauh lebih berat dari beban yang saya sandang. Tapi dalam hal semangat mengerjakan kebaikan lelaki ini jauh berada di atas saya.
Lelaki tua itu seperti dikirimkan Allah untuk mentarbiyah saya. Setelah hari itu kami tak pernah lagi bertemu, tapi pelajaran yang diberikannya membekas sampai hari ini. Lelaki itu senantiasa muncul saat semangat saya mengerjakan kebaikan melemah. Mengingatnya, saya selalu diingatkan bahwa cara untuk bersyukur adalah dengan memaksimalkan segenap potensi yang kita miliki untuk kebaikan.