(catatan kecil dari tanah kelahiran)
Apa kabar, Olis?
Aku tulis surat ini padamu dari waktu yang terentang panjang dan jarak yang mencipta ruang. Ini memang bukan kota yang pernah mempertemukan kita dulu. Bukan lagi kota di bawah garis khatulistiwa itu yang musim kemaraunya setia mengirimi kita kabut asap berdebu. Dan kita semua tak dapat menghindar sama sekali. Terkurung dalam udara berkabut yang menawarkan rasa perih di mata, juga sesak di rongga dada. Ah, kenangan …!
Aku tulis surat ini dari tanah kelahiranku sendiri. Sebuah tempat yang mungkin hanya akan kau temukan namanya pada sebuah peta dengan titik kecil sebagai penanda. Dan Ramadhan ini adalah yang kedua bagiku di tempat ini.
Maafkan aku jika dulu tak sempat berpamitan denganmu. Bukan karena tak ingin. Tetapi di dunia ini ada banyak hal yang terjadi tanpa pernah kita inginkan. Ada banyak peristiwa di sekeliling kita yang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa diduga, bahkan seperti tanpa terencana. Meskipun tentu saja Yang Maha Kuasa pasti mempunyai rencana bagi setiap hamba-Nya.
Butuh waktu yang tidak singkat bagiku untuk dapat memahami rencana Ilahi dengan kepulanganku ini. Berminggu-minggu lamanya aku tersiksa dengan perasaan terasing di tanah kelahiranku sendiri. Barangkali aku mengidap semacam syndrome yang menghinggapi mereka yang terlalu lama berada di perantauan. Saat itu aku merasa tengah bermetamorfose menjadi Robinson Cruesso – tokoh dalam novel terkenal karya Daniel Daffoe itu – lelaki malang yang dilemparkan badai ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni.
[Robinson Cruesso tidaklah semalang yang kuduga, Olis. Setelah tahun-tahun panjang yang sepi dan melelahkan itu ia bertemu dengan seorang penduduk asli yang dinamainya Friday. Bahkan kemudian lelaki yang semula dianggapnya tak berperadaban dan belum sempurna menjadi manusia itulah yang mengajarkan betapa luhur dan berharganya persaudaraan sejati].
Lambat laun aku mulai menyadari. Kepulangan ini adalah ujian sesungguhnya terhadap kesungguhan kita ber-Islam secara kaffah dan keteguhan hati melangkah di jalan dakwah. Tentu saja hal ini sama sekali tidak mudah. Apalagi bagiku yang belum terlalu lama hijrah meninggalkan kehidupan dan nilai-nilai jahiliyyah. Kedua kakiku masih sering terasa goyah dalam melangkah. Ah, Saudaraku, doakan aku agar bisa istiqamah selalu.
Zaman yang mempertemukan kita ini memang zaman ketika berpegang teguh kepada kebenaran dan hati nurani seperti menggenggam bara api. Bersikukuh menggenggamnya akan mengakibatkan kita terluka. Melepaskannya berarti terlempar jatuh ke jurang neraka. Tak jarang datang anggapan bahwa kita adalah orang-orang yang sok suci. Padahal tentu saja kita bukanlah manusia sempurna. Dan ingatan akan begitu banyaknya kesalahan yang pernah kita lakukan tanpa tahu bagaimana mempertanggung jawabkannya kelak di hadapan Allah itulah yang menyebabkan kita berhati-hati dalam melangkah.
Beratnya tantangan yang kuhadapi ini menyebabkan aku pernah berfikir untuk pergi dan meningggalkan medan perjuangan ini. Tapi berbekal keyakinan bahwa Yang Maha Pengasih tidak pernah memberikan beban melebihi kadar kesanggupan seseorang aku mencoba untuk bertahan. Dan di tempat ini pula aku membuktikan kebenaran janji-Nya akan pertolongan yang dekat. Saat tantangan semakin kuat terasa, saat itu pula pertolongan itu tiba. Kalau dulu semua tantangan ini membuat aku berfikir untuk pergi, sekarang justru semua inilah yang mengukuhkan hatiku untuk terus bertahan. Sebab harus ada yang aku lakukan di tanah kelahiran ini.
Begitu banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi seperti biasa begitu terbatasnya kosa kata dan ruang yang tersedia. Surat ini aku akhiri sampai di sini. Semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali. Jika tidak di dunia ini, semoga kita dipertemukan kembali kelak di surga-Nya. Amiin.
Ramadhan 1426 H