Makhluk-makhluk kecil itu seringkali menjadi pengganggu acara makan siang saya di kantin Pemda. Sepasukan semut kecil yang merubungi meja dan dengan gesit berebut remah-remah, atau sisa minuman manis yang tertumpah. Masalahnya kami berbagi meja makan yang sama. Tidak jarang mereka berinvasi begitu jauh sampai menelusup ke balik pakaian. Entah mencari apa.
Suatu ketika saya menyampaikan gagasan kepada Ibu Kantin untuk menggunakan kapur ajaib. Tahu ‘kan benda apa itu? Zat kimia berbentuk batangan padat mirip kapur tulis yang – menurut pengalaman saya – selama ini cukup efektif mengatasi gangguan makhluk melata kecil itu. Pada setiap tempat yang diolesi kapur ajaib tersebut akan terbentuk “pagar gaib” yang tak dapat ditembus oleh semut.
Akan tetapi ternyata solusi yang saya tawarkan tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Bukannya tidak pernah dilakukan sebelumnya. Pada mulanya memang cukup efektif. Beberapa diantara semut yang nekat menerobos rintangan maut tersebut akhirnya harus menemui ajal. Tapi seiring waktu, kapur ajaib tersebut seperti kehilangan kesaktiannya. Makhluk yang diabadikan Al-Qur’an sebagai nama salah satu surah tersebut akhirnya mampu menembus barikade goresan kapur yang selama ini sangat mematikan. Dan akhirnya, saya harus rela kembali berbagi meja makan dengan mereka.
Tapi sungguh Allah tidak pernah mencipta sesuatu dengan sia-sia. Ada sejumlah pelajaran penting yang saya dapatkan dalam pergaulan di meja makan tersebut. Pelajaran pertama datang dari sebatang kapur ajaib yang kehilangan kesaktiannya tersebut. Begitulah hidup. Seiring perjalanan waktu, kekuatan dan kekuasaan yang mungkin selama ini kita sandang perlahan memudar lalu menghilang. Sebuah proses yang sangat alami. Dari tiada, menjadi ada, lalu kemudian jika saatnya tiba kita pun kembali tiada.
Lantas semut-semut itu mengantarkan pada pelajaran yang lain. Boleh jadi kapur ajaib tersebut masih tetap mumpuni. Masih digdaya sebagai ancaman bagi kehidupan mereka. Kuat dugaan saya semut-semut itulah yang mengalami perubahan. Penggemar film dan bacaan fiksi ilmiah mungkin sepakat dengan saya bahwa semut-semut itu mengalami semacam mutasi genetis. Secara kimiawi tubuh mereka menjadi lebih kuat dan sanggup menahan racun mematikan kapur ajaib.
Kapur ajaib adalah musibah besar bagi komunitas semut. Racun mematikannya adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup mereka. Dibimbing oleh naluri mereka bertahan untuk hidup dengan melakukan perubahan. Naluri memberi mereka pelajaran penting bahwa mereka yang tidak berubah akan segera musnah. Akhirnya mereka menjadi sebuah koloni baru yang lebih kuat dan tangguh. Mereka berubah, lantas musibah tadi menjadi sebuah berkah.
Manusia memiliki kelengkapan lebih dari sekedar naluri. Sang Pencipta menyempurnakan penciptaan manusia atas makluk lainnya dengan akal dan hati nurani. Pada manusia, perubahan tidak berlangsung secara alami tetapi haruslah diupayakan terlebih dahulu sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk kita usahakan secara bersama-sama. Jika itu telah diupayakan, barulah Allah menurunkan pertolongan-Nya dan merubah keadaan suatu kaum menjadi lebih baik lagi. Berubahlah dahulu secara bersama-sama, barulah setelah itu Allah menolong kita mengatasi bencana.
Usahakan dulu apa yang mestinya kita lakukan. Perjuangkan dulu apa yang mestinya kita perjuangkan. Buatlah terlebih dahulu sebuah perahu Nuh di sepi gurun pasir sebagaimana yang diperintahkan-Nya kepada kita meski seluruh dunia mencibir nyinyir. Berlarilah dulu di terik matahari antara shafa dan marwa dan jangan menyerah sebab tidak lama lagi dari tanah kerontang ini akan terbit mata air zam-zam yang menghapus dahaga di kerongkongan kita.
Hari ini kita menghadapi sebuah musibah yang jauh lebih besar dari goresan kapur ajaib. Lebih dari sepuluh tahun sudah sejak bangsa yang pernah mendapat julukan sebagai Keajaiban Dari Asia untuk perkembangan ekonomi yang pesat di tahun 80’an jatuh terpuruk. Kita mengalami keruntuhan total; secara ekonomi, sosial, mental, moral. Bahkan keyakinan.
Prinsipnya sebenarnya sama. Andai kita berubah memperbaiki diri secara bersama-sama, mestinya musibah dapat membuat kita menjadi lebih kuat dan tegar menghadapi persoalan kehidupan. Persoalannya perubahan yang kita lakukan memang baru sebatas slogan dan pergantian pucuk pimpinan. Kalau pun memang terjadi perubahan, masih bersifat individual. Belum komunal, sehingga belum terlalu optimal mendorong gerbong perubahan yang lebih besar. Ah, mohon maaf kalau terkesan pesimis dengan keadaan ini!
Maka pantaslah kita belajar pada semut. Berubah secara bersama-sama jika tidak ingin musnah. Karena Allah tidak akan pernah mengubah keadaan suatu kaum … hatta yughayyiruma bi anfusihim!
Tanah kelahiran, Juni 2008